DKP Gorontalo Perkuat Pengelolaan KKPD Melalui Monitoring Biofisik di Teluk Gorontalo

Gorontalo – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo melaksanakan kegiatan Monitoring Biofisik di Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Teluk Gorontalo yang berlokasi di Perairan Desa Biluhu Timur, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala DKP Provinsi Gorontalo bersama Tim Kerja Pengelolaan Ruang Laut Bidang Pengelolaan Ruang Laut (PRL) dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), serta Satuan Unit Organisasi Pengelola (SUOP) Kawasan Konservasi Perairan Teluk Gorontalo.

Monitoring biofisik dilaksanakan menggunakan berbagai metode ilmiah yang mengacu pada protokol pemantauan kesehatan ekosistem pesisir dan laut. Pemantauan terumbu karang dilakukan melalui metode Line Intercept Transect (LIT) dan Underwater Photo Transect (UPT) untuk menilai tutupan karang hidup dan kondisi karang. Sementara itu, monitoring ikan karang menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC) guna mengukur kepadatan, biomassa, dan keanekaragaman jenis ikan.

Selain itu, tim juga melakukan pemantauan ekosistem padang lamun menggunakan metode transek dan petak kuadrat untuk mengukur tutupan, kerapatan jenis, dan biomassa lamun. Pada ekosistem mangrove, dilakukan pengukuran melalui metode belt transect dan petak ukur bertingkat guna mengetahui kerapatan vegetasi, diameter batang, serta persentase tutupan tajuk. Kegiatan turut dilengkapi dengan pengukuran kualitas air secara langsung di lapangan menggunakan Water Quality Checker serta pengambilan sampel untuk pengujian laboratorium.

Kepala DKP Provinsi Gorontalo Aryanto Husain menjelaskan bahwa monitoring biofisik merupakan instrumen penting untuk menilai kesehatan ekosistem perairan secara berkala sekaligus memastikan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi.

“Monitoring biofisik bertujuan untuk mengevaluasi kondisi habitat, memantau populasi biota laut, serta mengukur kualitas lingkungan perairan. Data yang dihasilkan menjadi dasar ilmiah dalam pengambilan kebijakan pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan serta menjadi tolok ukur efektivitas pengelolaan kawasan konservasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kepala Dinas menegaskan bahwa monitoring biofisik juga berfungsi sebagai sistem deteksi dini terhadap berbagai ancaman lingkungan, termasuk kerusakan habitat, tekanan aktivitas manusia, hingga dampak perubahan iklim terhadap kawasan pesisir dan laut.

“Data hasil monitoring menjadi landasan dalam penyusunan langkah-langkah pengelolaan berbasis ilmiah, termasuk evaluasi zonasi kawasan konservasi, penyusunan program rehabilitasi ekosistem, serta penguatan pengawasan pada lokasi yang mengalami penurunan kondisi biofisik,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang PRL dan PSDKP Fahrul Ulum Amlain, selaku Kepala SUOP KKPD Teluk Gorontalo menjelaskan bahwa hasil monitoring biofisik merupakan salah satu bukti ilmiah utama dalam pelaksanaan EVIKA (Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi).

Menurutnya, data monitoring menjadi bagian penting dalam penilaian EVIKA mulai dari aspek proses, output, hingga outcome. Data tersebut membuktikan pelaksanaan monitoring berkala sesuai standar operasional prosedur, menghasilkan informasi spasial dan tren kondisi ekosistem, serta menjadi indikator keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi melalui peningkatan kesehatan ekosistem dan keberlanjutan sumber daya perikanan.

Melalui kegiatan ini, DKP Provinsi Gorontalo terus memperkuat pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Teluk Gorontalo sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem laut, mendukung keberlanjutan ekonomi kelautan dan pariwisata bahari, memperkuat efektivitas zonasi kawasan konservasi, serta memenuhi indikator penilaian EVIKA di tingkat nasional.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top