Kota Gorontalo – Dalam rangka memperkuat implementasi Program AgroMaritim, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan Pembinaan Kelembagaan kepada Penerima dan Pengelola Kapal Taksi Nelayan, Ahad (19/4), di ALS Café dan Resto, Leato Selatan, Kota Gorontalo.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala DKP Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, Ketua Pembina Koperasi EL-MADANI Budiyanto Sidiki, Direktur Koperasi EL-MADANI Irfan Katili, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Kadir U. Menu, serta 45 nelayan yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Taksi Nelayan Tahun 2025.
Program Kapal Taksi Nelayan merupakan inovasi dalam tata kelola usaha perikanan melalui transformasi model kemitraan antara koperasi dan nelayan. Skema ini mengedepankan paradigma baru berupa akad kepemilikan bersama, di mana koperasi dan nelayan bertindak sebagai satu kesatuan usaha. Dengan demikian, seluruh keuntungan maupun risiko usaha ditanggung secara proporsional.
Dalam sambutannya, Kepala DKP Provinsi Gorontalo menegaskan bahwa Kapal Taksi Nelayan merupakan instrumen strategis untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah hasil tangkapan, khususnya komoditas tuna.
“Kapal Taksi Nelayan ini mengutamakan kualitas hasil tangkapan. Kita tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga kualitas hingga mampu mencapai standar Grade B bahkan Grade A,” ujar Aryanto.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan program sangat ditentukan oleh sinergi antarpihak, mulai dari pemerintah, koperasi, hingga nelayan. Kolaborasi ini turut terintegrasi dengan Program Strategis Nasional Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dan Koperasi Desa Merah Putih dalam menciptakan peluang bisnis berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Provinsi Gorontalo, Kadir U. Menu, menyoroti pentingnya perencanaan logistik dalam operasional kapal penangkap tuna. Ia menyebutkan bahwa nelayan masih menghadapi tantangan biaya tinggi, khususnya dalam pembangunan rumpon mandiri yang mencapai sekitar Rp80 juta.
“Kondisi ini membuat nelayan masih bergantung pada rumpon pihak lain. Ditambah lagi, kualitas hasil tangkapan yang belum optimal berdampak langsung pada pendapatan ABK. Karena itu, penerapan pelatihan Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) di atas kapal menjadi sangat krusial,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua Pembina Koperasi EL-MADANI, Budiyanto Sidiki, menegaskan bahwa pencapaian kualitas tuna Grade A menjadi target utama dalam pengembangan Kapal Taksi Nelayan. Ia juga mengapresiasi langkah koperasi dalam memberikan insentif bagi ABK yang mampu menjaga kualitas tangkapan.
“Pemberian bonus bagi ABK yang mencapai minimal Grade B adalah strategi tepat untuk mendorong peningkatan kualitas. Ini akan berdampak langsung pada nilai jual dan kesejahteraan nelayan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan pembinaan ini, DKP Provinsi Gorontalo berharap pengelolaan Kapal Taksi Nelayan semakin optimal, baik dari aspek kelembagaan, operasional, maupun peningkatan kualitas hasil tangkapan. Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar dalam memaksimalkan potensi tuna di perairan Sulawesi serta memperkuat ekonomi nelayan secara berkelanjutan.

