BUSAN, KOREA — Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi GorontaloAryanto HusainKepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, memaparkan tiga pilar utama sebagai strategi dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan Provinsi Gorontalo. Paparan ini disampaikan pada pertemuan tahunan PEMSEA di Busan, Korea Selatan, 8 September 2026 Pertemuan tahunan ini diikuti oleh para Kepala Daerah dari berbagai negara di kawasan Asia Timur. Forum tahunan ini dibuka Menteri Kelautan Korea. Selatan.
PEMSEA adalah organisasi yang beranggotakan 11 negara Asia Timur yang bertujuan mendorong pengelolaan kelautan secara berkelanjutan, mempromosikan kerjasama implementasi blue economy. Dalam forum kerjasama ini, masing-masing daerah salaing berbagi pengalaman dalam mengelolaan kelautan berkelanjutan. Gorontalo telah menjadi anggota PEMSEA sejak 2023.
Dalam papaaranya, Aryanto menjelaskan strtaegi utama pembangunan kelautan dan perikanan melalui prgram unggulan agromaritim. Program payung ini dijabarkan lebih lanjut kedalam tiga pilar utama yakni perikanan inklusif, peningkatan nilai tambah maritim, serta ekonomi biru dan keberlanjutan. Aryanto menyampaikan bahwa ketiga pilar itu menjadi fondasi Gorontalo dalam mengembangkan potensi kelautan dan perikanan secara produktif, adil, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
“Good policy begins with good data and information,” katanya saat mengelaborasi pilar pertama, perikanan inklusif. Ketersediaan data yang akurat dinilai penting agar kebijakan dapat disusun berdasarkan kondisi nelayan, kapal, sumber daya, dan masyarakat pesisir secara nyata. Pilar ini juga mencakup pemberdayaan masyarakat pesisir serta penyediaan sarpras perikanan termasuk penyediaan motor ber cool box kepada pefagang ikan dan kapal perikanan untuk nelayan.
Program Taksi Kapa Nelayan dikembangkan melalui pola kerja sama pemerintah, koperasi, dan nelayan. Model tersebut memberikan kesempatan kepada nelayan skala kecil untuk mengoperasikan kapal yang lebih aman dan produktif tanpa terkendala modal awal. Koperasi berperan mengelola kapal, menyediakan modal kerja, mengatur logistik, serta memastikan pemeliharaan kapal berjalan rutin. “Nelayan tinggal mengoperasikannya dengan bertanggunjawab dan membawa hasil penjualan untuk keluarga di rumah,”ujarnya.
Pilar kedua terkait dengan peningkatan nilai tambah maritim. Fokusnya mencakup perbaikan pelabuhan perikanan, penguatan sistem rantai dingin, peningkatan kemudahan berusaha termasuk pemasaran hasil perikanan. Pilar ini didukun program nasional Kampung Nelayan Merah Putih yang dirancang untuk mengubah kampung nelayan tradisional menjadi pusat ekonomi yang terintegrasi. Fasilitas dermaga modern, pabrik es, stasiun pengisian bahan bakar, penyimpanan dingin, unit pengolahan, serta pusat pemasaran diharapkan dapat menekan biaya operasi dan mengurangi kehilangan hasil pascapanen.
Sedangkan untuk pilar ketiga tentang ekonomi biru dan keberlanjutan, Aryanto menjelaskan penguatan kelembagaan dan kerja sama dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan, peningkatan pemantauan terhadap praktik penangkapan ikan yang merusak, serta pengembangan potensi karbon biru. Menurutndya, sustainability bukanlah program tambahan, melainkan landasan bagi keberlangsungan seluruh perekonomian kelautan, karena tanpa ekosistem yang sehat, sektor perikanan dan pariwisata bahari tidak akan mampu berkembang dalam jangka panjang.
Di akhir paparan, Aryanto mengajak semua daerah dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendorong praktek pengleolaan sumberdaya laut dan perikanna secara berkelanjutan agar tidak hanya memberi manfaat buat generasi saat ini namun juga agart generasi mendatang masing dapat mnikmatinya.
“Saya yakni laut Gorontalo akan memberi manfaat bagi daerah dan masyarakat jika dikelola dengan bijkasana, karenanya mari kita kelola dengan bijak dan bertanggungjawab,” tutupnya.

