Kadis KP, Konservasi Perairan adalah Rem bagi Pemanfaatan Sumberdaya Laut Secara Berlebihan

KOTA GORONTALO — Langkah strategis dalam menjaga kelestarian ekosistem laut kembali diperkuat di Provinsi Gorontalo. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan kegiatan Pengembangan Kapasitas Teknis bagi 8 Pengelola Kawasan Konservasi di Indonesia Timur. Pelatihan yang berlangsung dari tanggal 27 September hingga 2 Oktober 2026 ini ikut melibatkan Satuan Unit Operasional Pengelola (SUOP) Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Teluk Gorontalo.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, menyambut baik kegiatan ini. Dalam sambutanya, dia menegaskan bahwa keberadaan kawasan konservasi perairan memiliki fungsi fundamental layaknya sebuah sistem rem pengaman. Rem ini berfungsi untuk mengendalikan eksploitasi dan pemanfaatan sumber daya laut agar tidak berlebihan (overexploitation), demi menjamin keberlanjutan jangka panjang bagi generasi mendatang.

Aryanto menambahkan bahwa konservasi laut sering kali disalahpahami sebagai upaya yang menutup total ruang aktivitas ekonomi masyarakat. Padahal, paradigma yang harus dibangun bersama adalah sebaliknya.

“Konservasi tidak berarti menutup ruang pemanfaatan. Sebaliknya, konservasi harus menjadi dasar agar pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan dapat berlangsung secara berkesinambungan dalam jangka panjang.” ujarnya.

Menurutnya, ibarat berkendara di jalan raya, kawasan konservasi perairan bertindak sebagai sistem pengereman yang bijak. Rem tersebut tidak dimaksudkan untuk menghentikan laju kendaraan atau pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir, melainkan untuk memastikan kendaraan melaju pada kecepatan yang aman, terarah, dan tidak terperosok ke jurang eksploitasi berlebihan. Dengan adanya zonasi dan perlindungan ekosistem, stok ikan dan kesehatan habitat laut dapat pulih secara alami.

Gorontalo sendiri telah memliki KKPD Teluk Gorontalo yang memiliki fungsi ekologis yang sangat vital, sekaligus menjadi pusat aktivitas sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat pesisir. Penguatan kapasitas pengelola ini diintegrasikan secara selaras dengan visi besar pembangunan ekonomi biru (blue economy) serta program agro maritim berkelanjutan di Gorontalo.

Selama 4 hari , peserta menerima rangkaian kegiatan mencakup pembekalan teoretis hingga praktik lapangan, seperti teknik penyelaman (diving), pemantauan ekosistem terumbu karang, pemantauan spesies ikan yang dilindungi, serta perawatan peralatan selam.

Pelatihan intensif di perairan terbuka Teluk Gorontalo ini bertujuan untuk mendorong para pengelola agar bekerja secara lebih profesional. Melalui pengumpulan data yang akurat dan berbasis sains (evidence-based management), setiap kebijakan pengelolaan wilayah pesisir dapat dievaluasi secara tepat sasaran.

Kegiatan pelatihan ini ditutup dengan aksi rehabilitasi dan transplantasi terumbu karang di perairan Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, yang menjadi habitat penting bagi pariwisata bahari hiu paus (whale shark).

“Saya optimis melalui penguatan kompetensi pengelola kawasan konservasi ini, keseimbangan antara aspek perlindungan lingkungan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat pesisir dapat tercapai secara harmonis. Kita jaga laut agar terus memberikan manfaat ekonomi yang adil dan berkelanjutan di masa depan,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top